About About Us

Saung Angklung Udjo

Saung Angklung Udjo (SAU) merupakan sebuah tujuan wisata budaya yang lengkap, karena SAU memiliki arena pertunjukan, pusat kerajinan bambu dan workshop untuk alat musik bambu. Kehadiran SAU di Bandung menjadi lebih bermakna karena kepeduliannya untuk terus melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Sunda – khususnya Angklung – kepada masyarakat melalui sarana pendidikan dan pelatihan

 

          Dengan atmosfer segar Tatar Parahyangan di kawasan Bandung Timur, SAU menjadi tempat yang tepat untuk menikmati keunikan dari dominasi bambu, dimulai dari elemen interior dan landscape sampai dekorasi dan gemerincingnya suara alat musik bambu. Sehingga menggambarkan keharmonisan diantara alam dan budaya, karenanya, tidaklah mengherankan apabila SAU kini berkembang menjadi sebuah tujuan pengalaman wisata budaya yang lengkap – tempat untuk bisa merasakan kebudayaan sunda sebagai bagian dari kekayaan warisan budaya dunia.



                                                                 


SAU dibangun pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena atau lebih dikenal sebagai Mang Udjo bersama istrinya, Uum Sumiati, dengan tujuan melestarikan seni dan budaya tradisional sunda. Mang Udjo adalah seorang seniman angklung yang berasa dari Jawa Barat. Lahir pada tanggal 5 Maret 1929, Mang Udjo adalah anak keenam dari pasangan Wiranta dan Imi. Mang Udjo sudah mengenal kesenian angklung dengan akrab sejak berumur 4 tahun sehingga tidak heran bila Mang Udjo sangat mencintai kesenian ini sampai akhirnya mendirikan Saung Angklung Udjo.

 

terbentuk atas dasar cinta dan cita-cita Mang Udjo Ngalagena (alm) dan istri, Ibu Uum Sumiati (alm) pada tahun 1958 untuk ikut melestarikan kesenian khas daerah Jawa Barat dengan mengandalkan semangat gotong royong antar sesama warga desa, yang bertujuan pula untuk ikut melestarikan alam dan lingkungan.

Saung Angklung Udjo adalah sanggar seni sebagai tempat pertunjukkan seni, laboratorium pendidikan dan latihan kesenian untuk mendidik para pelatih dan pemain dalam bidang pertunjukkan kesenian khas Jawa Barat, khususnya musik angklung.


Visi

Menjadi kawasan budaya sunda khususnya budaya bambu yang mendunia untukmewujudkan wisata unggulan di Indonesia.

Misi

Melestarikan dan mengembangkan budaya sunda dengan basis filosofi Mang Udjo, yaitu gotong royong antar warga dan pelestarian lingkungan untuk kesejahteraan masyarakat.



                                                                                             


Udjo Ngalagena


                                                                   

5 Maret 1929, adalah hari di saat pasangan suami istri Wiranta dan Imi dikarunia putra keenam mereka, yang kemudian diberi nama Udjo.

Udjo kecil sudah memperlihatkan bakatnya dan ketertarikannya dalam dunia seni, musik dan budaya sejak usia balita. Udjo mempelajari Angklung dalam dua tangga nada dasar, yaitu diatonik dan pentatonik, hal ini menjadikannya mahir untuk memainkan berbagai jenis musik, mulai dari musik tradisional Sunda dan lagulagu popular Indonesia, serta juga, lagu dari negara Belanda.

Kepiawaiannya dalam berkesenian terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Dan kemudian Udjo menjadi seorang guru kesenian di beberapa sekolah di Bandung. Keinginannya untuk terus maju mendorongnya untuk mempelajari kesenian langsung dari para maestro kesenian Sunda, mereka adalah : Mang Koko sang ahli Kecapi; Rd. Machyar Angga Kusumahdinata seorang guru gamelan; dan Daeng Soetigna sang inventor Angklung diatonik. Tak lama kemudian, Udjo didaulat untuk menjadi asisten dari Daeng Soetigna, dan kemudian mewakilinya untuk memimpin sebuah pertunjukan musik.


                                                                  




Hasrat dan kecintaannya pada seni dan budaya menjadi alasan utama bagi Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati untuk mendirikan Saung Angklung Udjo (SAU). Pernikahannya dengan Uum Sumiati dikaruniai 10 orang putra dan putri. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, mereka mewarisi hasrat dan kecintaan Udjo Ngalagena kepada Angklung.

Pada hari Kamis tanggal 3 Mei 2001 Udjo Ngalagena wafat. SAU tidak berhenti sampai disini, kesepuluh putra-putrinya secara bersama-sama meneruskan langkah SAU untuk terus melestarikan dan mengembangkan budaya Sunda. Karena semangat yang tertanam di hati mereka memang tak kan pernah memudar.