About About Us

Sejarah Angklung

Sebenarnya tidak ada keterangan yang pasti mengenai kapan angklung mulai ada dan dimainkan dalam masyarakat Indonesia. Keterangan tertua mengenai angklung ada dalam kitab Nagara Kertagama (pupuh:L1:7), yang menceriterakan bahwa angklung merupakan alat bunyi-bunyian yang dipergunakan dalam upacara penyambutan kedatangan raja. Diceriterakan bahwa kesenian angklung dimainkan rakyat untuk menyambut Raja Hayam Wuruk saat mengadakan peninjauan keliling daerah Jawa Timur pada tahun 1359 (Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat, 1977:52). Angklung di Jawa mulai terkenal pada abad ke-17. Pada masa itu di Keraton Sultan Agung, Banten, terdapat banyak sekali angklung yang didatangkan dari Bali (Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat, 1977:52).

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Asal usul terciptanya angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip), sehingga melahirkan penciptaan syair dan lagu serta dipergunakannya angklung sebagai alat kesenian yang mendukung upacara-upacara adat dan tradisi seperti upacara ngaseuk pare (menanam benih padi), nginepkeun pare (menyimpan padi untuk sementara), ngampihkeun pare (menyimpan padi), seren taun (upacara tahunan), nadran (berziarah), ngunjung ka Gunung Jati (upacara ritual ke Gunung Jati), heleran (menggiling padi), dll. Selain berfungsi sebagai sarana ritual, angklung juga dimainkan untuk kepentingan hiburan yaitu mengiringi peperangan, bahkan juga dipergunakan pasukan kerajaan Pajajaran dalam kancah Perang Bubat.Angklung tradisional:

ü Angklung Baduy sebagai kesenian pendukung upacara ngaseuk pare.

ü Angklung Buncis, dibuat pertama kali oleh Pak Bonce pada tahun 1795 di Kampung Cipurut, Desa Baros, Arjasari,Bandung.

ü Angklung Gubrag yang dimainkan pada upacara seren taun, hajatan keluarga, perhelatan hari raya, hari-hari besar nasional, dan acara-acara lain yang menyangkut dan melibatkan orang banyak.

ü Angklung Bungko, yang diyakini telah berusia lebih dari 600 tahun di Desa Bungko, perbatasan antara Cirebon dan Indramayu.


Usaha-usaha untuk mengembangkan kesenian angklung tradisional dilaksanakan secara konsisten, baik oleh para tokoh angklung maupun oleh pihak Pemerintah.

 

Adalah usaha Pak Daeng Soetigna dengan melakukan modernisasi instrumen angklung pada tahun 1938, yaitu angklung berskala tangga nada diatonis, yaitu Angklung modern atau yang biasa disebut Angklung Padaeng.


Usaha pengembangan dan pelestarian kesenian angklung yang sangat menonjol dilakukan oleh Udjo Ngalagena melalui Saung Angklung Udjo, salah satu lembaga kesenian yang bergerak dalam bidang industri alat-alat musik bambu, terutama waditra angklung, pelatihan kesenian angklung dan kesenian tradisional Sunda, dan juga berperan sebagai objek wisata budaya yang mengangkat kesenian angklung dan kesenian bambu lainnya dalam penyajiannya. Sehingga SAU menjadi Laboratorium Pendidikan dan Latihan Kesenian Daerah melalui Bidang Kesenian Daerah Kantor Wilayah Departemen Kesenian dan Kebudayaan Jawa Barat pada 1970, kemudian ditetapkan sebagai objek pariwisata daerah oleh Dinas Pariwisata Daerah Kotamadya Bandung sejak 1971.