Latest News Detail

Faq

FREQUENTLY ASKED QUESTION (FAQ) 2015

SAUNG ANGKLUNG UDJO

 

 

Q: Sejarah Angklung di Jawa Barat, siapa yang menemukan Angklung, kapan dan dimana?

A:

Ø  Sebenarnya tidak ada keterangan yang pasti mengenai kapan angklung mulai ada dan dimainkan dalam masyarakat Indonesia. Keterangan tertua mengenai angklung ada dalam kitab Nagara Kertagama (pupuh:L1:7), yang menceriterakan bahwa angklung merupakan alat bunyi-bunyian yang dipergunakan dalam upacara penyambutan kedatangan raja. Diceriterakan bahwa kesenian angklung dimainkan rakyat untuk menyambut Raja Hayam Wuruk saat mengadakan peninjauan keliling daerah Jawa Timur pada tahun 1359 (Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat, 1977:52). Angklung di Jawa mulai terkenal pada abad ke-17. Pada masa itu di Keraton Sultan Agung, Banten, terdapat banyak sekali angklung yang didatangkan dari Bali (Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat, 1977:52).

Ø  Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Ø  Asal usul terciptanya angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip), sehingga melahirkan penciptaan syair dan lagu serta dipergunakannya angklung sebagai alat kesenian yang mendukung upacara-upacara adat dan tradisi seperti upacara ngaseuk pare (menanam benih padi), nginepkeun pare (menyimpan padi untuk sementara), ngampihkeun pare (menyimpan padi), seren taun (upacara tahunan), nadran (berziarah), ngunjung ka Gunung Jati (upacara ritual ke Gunung Jati), heleran (menggiling padi), dll. Selain berfungsi sebagai sarana ritual, angklung juga dimainkan untuk kepentingan hiburan yaitu mengiringi peperangan, bahkan juga dipergunakan pasukan kerajaan Pajajaran dalam kancah Perang Bubat.

Ø  Angklung tradisional:

ü Angklung Baduy sebagai kesenian pendukung upacara ngaseuk pare.

ü Angklung Buncis, dibuat pertama kali oleh Pak Bonce pada tahun 1795 di Kampung Cipurut, Desa Baros, Arjasari,Bandung.

ü Angklung Gubrag yang dimainkan pada upacara seren taun, hajatan keluarga, perhelatan hari raya, hari-hari besar nasional, dan acara-acara lain yang menyangkut dan melibatkan orang banyak.

ü Angklung Bungko, yang diyakini telah berusia lebih dari 600 tahun di Desa Bungko, perbatasan antara Cirebon dan Indramayu.

Ø  Usaha-usaha untuk mengembangkan kesenian angklung tradisional dilaksanakan secara konsisten, baik oleh para tokoh angklung maupun oleh pihak Pemerintah.

Ø  Adalah usaha Pak Daeng Soetigna dengan melakukan modernisasi instrumen angklung pada tahun 1938, yaitu angklung berskala tangga nada diatonis, yaitu Angklung modern atau yang biasa disebut Angklung Padaeng.

Ø  Usaha pengembangan dan pelestarian kesenian angklung yang sangat menonjol dilakukan oleh Udjo Ngalagena melalui Saung Angklung Udjo, salah satu lembaga kesenian yang bergerak dalam bidang industri alat-alat musik bambu, terutama waditra angklung, pelatihan kesenian angklung dan kesenian tradisional Sunda, dan juga berperan sebagai objek wisata budaya yang mengangkat kesenian angklung dan kesenian bambu lainnya dalam penyajiannya. Sehingga SAU menjadi Laboratorium Pendidikan dan Latihan Kesenian Daerah melalui Bidang Kesenian Daerah Kantor Wilayah Departemen Kesenian dan Kebudayaan Jawa Barat pada 1970, kemudian ditetapkan sebagai objek pariwisata daerah oleh Dinas Pariwisata Daerah Kotamadya Bandung sejak 1971.

 

Q : Apa filosofi angklung ?

A : Angklung mempunyai berbagi macam filosofi. Salah satu filosofi yang terkandung dalam angklung adalah angklung tidak dapat dimainkan sendiri. Setiap nada angklung membutuhkan nada angklung lainnya untuk dapat membentuk dan membuat suatu harmoni berupa sebuah lagu. Sama halnya jika angklung diibaratkan sebagai seorang manusia yang tentunya membutuhkan manusia lain untuk hidup dan berkembang. Jika manusia dapat bekerjasama dan saling menghormati, manusia akan hidup dalam keharmonisan sosial. Angklung merupakan wujud nyata untuk membentuk persatuan dalam keberagaman. Keberagaman manusia digambarkan melalui nada-nada Angklung yang berbeda, lalu digabungkan keseluruhannya menjadi persatuan yang diperdengarkan melalui harmoni suara.

Q: Angklung pada zaman dahulu sering digunakan sebagai pengiring tentara yang akan pergi berperang, apakah lagu yang digunakan pada saat tersebut masih dimainkan pada zaman sekarang?

A: Seperti telah disebutkan diatas, Angklung dalam peperangan berfungsi sebagai hiburan penggugah dan pemompa semangat rakyat. Tentunya di iklim sekarang, kita tidak akan berharap ada peperangan dan pertempuran, justru sebaliknya, Angklung saat ini berfungsi menjembatani Perdamaian, tentunya dengan lagu yang sangat berbeda.

 

Q: Benarkah nama Angklung berdasarkan mitologi Bali ?

A:

Ø  Di Bali, angklung identik dengan cumang kirang, yaitu waditra terbuat dari perunggu berbentuk bilahan nada, di mana setiap ancaknya terdiri dari empat buah bilah nada. Waditra tersebut dipergunakan dalam upacara ngaben atau pembakaran mayat (Soepandi dan Atmadibrata, 1977:12).

Ø  Menurut mitologi Bali, kata angklung berasal dari kata angka, yang berarti nada, dan kata lung yang berarti patah atau hilang. Angklung kemudian dapat dikatakan sebagai nada atau laras yang tidak lengkap (Soepandi dan Atmadibrata, 1977:12). Dari pengertian tersebut, angklung lalu didefinisikan sebagai waditra yang terbuat dari ruas-ruas bambu yang dibunyikan dengan cara digoyang sehingga menghasilkan nada-nada tertentu (Rosidi, 2000:51. Rusnandar, et.al., 1996:23).

 

Q : Media apa saja yang dipakai untuk mempromosikan SAU ?

A :Strategi untuk mempromosikan kegiatan SAU selama ini adalah promosi dari mulut ke mulut (mouth to mouth). Pengunjung atau customer yang menggunakan jasa SAU akan mempromosikan kembali kepada keluarga, kerabat maupun perusahaan lain karena tingkat kepuasan akan pertunjukan kami. Hal ini sangat efektif karena promosi tersebut kami dapatkan secara cuma-cuma dan merupakan testimoni customer sacara langsung yang telah terbukti benar. Akan tetapi kami menyadari bahwa di era global ini kami harus bersentuhan dengan media baik cetak maupun media elektronik. Oleh sebab itu tidak sedikit dari stasiun tv lokal, nasional dan internasional yang datang meliput kegiatan Saung Angklung Udjo. Terlebih lagi di era digital saat ini kami harus mempertahankan eksistensi dengan menginformasikan & mempromosikan kegiatan Saung Angklung Udjo secara aktif. Adapun media sosial yang kami gunakan adalah :

            Facebook          : Saung Angklung Udjo

            Twitter             : @angklungudjo

            Instagram         : @angklungudjo

            Website            : www.angklung-udjo.co.id

            Youtube             : Saung Angklung Udjo

            Email                 : info@angklung-udjo.co.id 

Q: Bagaimana dengan company culture di SAU?

A: Sesuai dengan Misi Saung Angklung Udjo yaitu “Melestarikan dan mengembangkan budaya sunda dengan basis filosofi Mang Udjo, yaitu gotong royong antar warga dan pelestarian lingkungan untuk kesejahteraan masyarakat”, maka company culture kita adalah pemberdayaan masyarakat sekitar dengan azas gotong royong untuk kesejahteraan bersama. Apabila dikatikan dengan era sekarang kita mengenal dengan istiah ekonomi kerakyatan.

Q: Apakah ada filosofi khusus yang digunakan oleh Mang Udjo dalam menjalankan SAU sehingga SAU dapat bertahan dari tahun 1967 sampai sekarang di tengah perubahan zaman yang sangat cepat?

A: Saung Angklung Udjo sampai dengan saat ini masih memiliki cita–cita dan harapan yang sesuai dengan pesan Udjo Ngalagena (Alm.) yang juga merupakan jawaban atas pesan Daeng Soetigna (Alm.) tentang Angklung sebagai seni dan identitas budaya yang membanggakan:

 

“I got message from the Late Father of Angklung, Mr Daeng Soetigna, to continue to introduce the ANGKLUNG to many people throughout the world to be known everywhere, with the idea to bring mission that through ANGKLUNG MUSIC ENTERTAINMENTS will help promote world peace, which we all love and long for”.

 

Yang dimaksud adalah sebagai berikut: “Saya mendapat pesan dari Bapak Angklung Dunia, Daeng Soetigna (Alm.), untuk meneruskan misinya memperkenalkan ANGKLUNG ke semua orang di seluruh dunia agar dikenal dimana – mana, dengan sebuah gagasan bahwa melalui penampilan kesenian musik ANGKLUNG, akan dapat membantu mendorong terciptanya kedamaian di dunia, yang kita cintai dan kita tinggali ini”. Sehingga atas kiprahnya tersebut, hingga Udjo Ngalagena (Alm.) meninggalkan kita pada tanggal 3 Mei 2001, Beliau dijuluki sebagai Legenda Angklung.

 

"What You Are,

What Job You Have Choosen,

Do It Well, Do It With Love,

Without Love, You Are Dead Before You Die " - Udjo Ngalagena –

 

 

Q: Bagaimana dengan karakter Mang Udjo jika dilihat dari kacamata orang-orang yang bekerja di SAU?

A: Karakter beliau adalah orang yang cinta akan seni budaya sunda terutama angklung, ia sejak remaja menanamkan bagaimana cara memainkan kesenian angklung dengan baik, bagaimana etika seni pertunjukan kesenian angklung, nilai-nilai moral yang terkandung dalam kesenian tradisional secara umum dan kesenian angklung secara khusus, dan sebagainya. Pendidik Kepada tim kesenian angklungnya, Udjo juga menaruh harapan yang tidak kalah besar, terutama harapan dalam pengembangan usaha pertunjukan kesenian tradisional khas Jawa Barat yang mulai dirilisnya.

 

Q: Apakah ada Saung Angklung lain di Jabar, mengapa hanya SAU yang exist dan dikenal sampai mancanegara?

A:  Kalau Saung Angklung selain di jawa barat kami belum melihatnya, mungkin bisa dikatakan kita adalah satu satunya di Jawa Barat dan Indonesia.

 

Q: Apa kesan yang sering diungkapkan oleh wisatawan asing setelah menyaksikan pertunjukan seni di SAU?

A: Kesan yang sering dilontarkan oleh turis asing adalah mereka merasa hal ini adalah sangat berkesan baik terhadap pertunjukannya maupun terhadap anak anak para pemain dan bahkan pernah terjadi ada seorang turis asing yang datang ke SAU 6 kali berturut –turut.

 

Q: Bagaimana cara mendidik anak-anak kecil untuk dapat memainkan alat-alat musik dengan baik, bahkan seorang anak berumur 2 tahun dapat memainkan sebuah kendang?

A: Di Saung Angklung Udjo kami memiliki beberapa program pelatihan dibawah bimbingan para pelatih Angklung, hal ini meliputi pelatihan mengenai tata cara memainkan Angklung, Gamelan, Tari sampai kepada pelatihan Sopan Santun sampai Bahasa. Pola ini dilatih secara terus-menerus kepada para Murid berdasarkan tingkatan-tingkatan tertentu, dan waktu dari pelatihan ini memakan waktu berbulan – bulan. Pelatihan kami juga mengacu pada standarisasi yang kami tetapkan di SAU, seorang anak akan dapat tampil di depan pengunjung jika menurut tutornya ia sudah menguasai benar materi yang diberikan.

 

Q : Bagaimana para murid didik SAU Apakah keuntungan yang didapatkan oleh para murid didik SAU selain keahlian dan keterampilan dibidang kesenian ?

A : Selain mendapatkan keahlian dan keterampilan SAU dalam bidang kesenian, para murid tersebut mendapatkan kompensasi berupa beasiswa yang diberikan secara berkala oleh pihak SAU. Selain itu, area Padasuka merupakan area yang kekurangan arena dan lapangan bermain, oleh sebab itu SAU dapat dijadikan bukan hanya sebagai arena untuk edukasi namun juga sebagai sarana dan tempat bermain. Murid didik SAU pun mendapatkan materi bimbingan belajar dari murid senior SAU ataupun guru berupa mengajaran bahasa inggris, agama dan pelajaran formal lainnya yang diperlukan oleh anak-anak.

 

Q : Apakah murid didik SAU mengenyam pendidikan sekolah formal ?

A : Ya, mereka mengenyam pendidikan sekolah formal dari mulai SD, SMP, SMA bahkan Universitas. Untuk pembagian jadwal pertunjukan para murid SAU, bagi yang bersekolah pagi mereka akan ditempatkan dalam pertunjukan bambu siang, petang bahkan malam. Bagi yang bersekolah siang, mereka akan ditempatkan dalam pertunjukan bambu pagi.

 

Q: Apa Motivasi yang mendasari Mang Udjo ketika mendirikan SAU di tahun 1966?

A: Udjo Ngalagena dalam mendirikan Saung Angklung Udjo lebih termotivasi untuk melestarikan kesenian khas

daerah Jawa Barat dengan mengandalkan semangat gotong royong antar sesama warga desa, yang bertujuan pula untuk ikut melestarikan alam dan lingkungan.

 

Q: Pertunjukan apa yang dipentaskan secara berkala dan kapan ?

A: Pertunjukan yang kami secara berkala dan teratur adalah pertunjukan bambu petang di area pendopo SAU. Pertunjukan ini diadakan setiap hari (dalam satu tahun hanya libur 1 kali, yaitu pada hari pertama Iedul Fitri) pukul 15.30-17.00 WIB.

 

Q : Apakah kontribusi SAU terhadap masyarakat diluar bidang kesenian ?

A : Kontribusi SAU terhadap masyarakat selain dibidang kesenian mencakup di berbagai bidang, yakni :

ü  SAU meyediakan Souvenir Shop di area SAU yang mana merupakan suatu media untuk membantu memasarkan hasil kerajinan para pengrajin menengah dan bawah baik sekitar SAU maupun daerah di Jawa Barat. Tentu saja dengan manjaga kualitas kerajinan yang dihasilkan sehingga keuntungan yang didapatkan tak hanya dari segi materi yang dapat mensejahterakan kehidupan para pengrajin, namun kerajinan daerah tersebut diharapkan mendapat apresiasi dari para turis terutama turis mancanegara karena mereka menganggap kerajinan tradisional tersebut sebagai sesuatu yang jarang, bercita rasa tinggi, hasil dari suatu kebudayaan dan tentunya tidak ada di negara mereka.

ü  SAU berpartisipasi dalam penyediaan lahan untuk kegunaan sosial yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat banyak, salah satunya adalah :

-          Menyediakan tempat untuk beribadah, terutama saat Iedul Fitri dan Iedul Adha

-          Menyediakan tempat untuk Pemilu

-          Menyediakan untuk sarana sosial seperti Imunisasi, Periksa Mata Gratis, dan lain-lain

-          Menyediakan tempat untuk Balai Pertemuan Warga

-          dan lain-lain.

-          Menyediakan tempat berkumpulnya komunitas untuk tujuan sosial

-          Membebaskan biaya masuk untuk melihat pertunjukan bagi warga sekitar, anak-anak tidak mampu, orang-orang yang memerlukan bantuan lainnya.

ü  SAU memberikan dana-dana sosial yang ditujukan untuk membantu kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat, terutama masyarakat di area Padasuka.

 

Produksi Angklung

Q : Mengapa pohon bambu yang digunakan untuk membuat angklung harus berusia 4-6 tahun sebelum   dipotong dan pemotongan dilakukan antara pukul 9 Pagi sampai dengan pukul 3 sore?

A : Tidak semua jenis bambu dapat dijadikan angklung, tapi hanya beberapa saja, diantaranya adalah bambu hitam (awi hideung), bambu temen (awi temen), bambu tali (awi tali), bambu belang (awi belang). Bambu gombong, karena ukuran tabungnya besar, tidak dapat dijadikan tabung suara, tapi dapat dipakai sebagai bahan pembuat tiang angklung. Bambu sebagai bahan dasar utama Angklung mengalami fase matang setelah berusia 4 tahun ke atas. Penebangannya pun tidak sembarangan, namun harus pada musim kemarau, sekitar jam 10 pagi sampai jam 3 sore, karena pada saat itu kadar air dalam bambu sedang rendah jumlahnya. Setelah ditebang, bambu ini tidak dapat langsung dibuat jadi angklung, namun harus disimpan dan dianginanginkan sampai kering betul. Pengeringan bambu ini tidak boleh dengan cara dijemur, karena dapat membuat bambu retak. Waktu penyimpanan ini paling sedikit adalah 6 bulan, agar kadar airnya betul-betul hilang atau kering.

 

Q : Bagaimana caranya menjaga standardisasi nada untuk setiap angklung yang dibuat?

A : Salah satu tahapan dalam pembuatan Angklung adalah pemberian Nada, yaitu dengan membuat tabung

suara pada bakalan, dan memberikan nada yang sesuai dengan alat bantu Xylophone/ Garpu Tala Kromatik.

 

Q : Darimanakah SAU mendapatkan angklung-angklung saat ini ? Apakah memproduksi sendiri ?

A : Saat ini SAU telah membina kurang lebih 25 (dua puluh lima) kelompok pengarajin angklung yang tersebar di berbagai daerah mulai sekitar daerah Padasuka bahkan Tasik. Kelompok pengrajin tersebut dibina oleh SAU untuk memproduksi angklung sesuai dengan standar yang ditetapkan untuk memenuhi kualitas dari sebuah angklung. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kehidupan mereka. Selain itu, secara ilmu dan keterampilan, para pengrajin dapat menghasilkan angklung yang kualitas.

 

Angklung & UNESCO

Q : Jelaskan peristiwa pengukuhan Angklung oleh UNESCO ?

A : Angklung ditetapkan menjadi Warisan Budaya Dunia (The Intangible Heritage) oleh UNESCO. Penetapan alat musik angklung ini menyusul Wayang, Keris, dan Batik yang telah terlebih dulu ditetapkan sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. Pengukuhan angklung sebagai warisan budaya dunia dilakukan oleh UNESCO hari ini, Kamis, 16 November 2010 di Nairobi, Kenya. Angklung ditetapkan sebagai “Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity” (Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia).

 

    Angklung yang merupakan alat musik tradisional dari Jawa Barat ini dinilai dan ditetapkan dalam Sidang ke-5 Komite Antar-Pemerintah tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda (Inter-Governmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (IGC-ICH) yang berlangsung di Kenya. Menurut UNESCO, angklung memenuhi kriteria sebagai warisan budaya takbenda dunia antara lain karena, angklung merupakan bagian penting identitas budaya masyarakat di Jawa Barat dan Banten. Seni musik ini mengandung nilai-nilai dasar kerjasama, saling menghormati dan keharmonisan sosial. Dan yang paling penting adalah angklung tidak hanya sekedar benda akan tetapi memiliki nilai materi sehingga dapat mensejahterkan masyarakatnya.

 

Q : Apakah amanat-amanat UNESCO dalam menjaga pengukuhan Angklung tersebut ?

A : Angklung dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Dunia (The Intangible Heritage) dari Indonesia bukanlah tanpa syarat. Penghargaan dari UNESCO itu bersyarat dan UNESCO akan senantiasa meninjau apakah syarat-syarat tersebut terpenuhi. Amanat-amanat yang diberikan oleh UNESCO dalam menjaga keberadaan angklung adalah kita harus terus mempromosikan (promote), melestarikan (preserve), meregenerasikan (renew) dan melindungi (protect) angklung secara berkesinambungan.

Q : Bagaimana upaya SAU dalam merealisasikan amanat-amanat UNESCO tersebut ?

A : Setiap harinya SAU mempunyai pertunjukan-pertunjukan baik internal maupun eksternal yang berfungsi untuk memperkenalkan dan melestarikan angklung. Tak hanya diperkenalkan sebagai alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat, namun juga diperkenalkan sebagai kebudayaan Indonesia dan warisan budaya Indonesia yang telah mendunia. Hal tersebut secara tidak kita sadari adalah merupakan salah satu upaya SAU untuk menjaga amanat UNESCO dalam menjaga eksistensi angklung.

 

    Semenjak angklung dikukuhkan pada tahun 2010, secara nyata SAU merealisasikan dan mengemban amanat UNESCO dengan pagelaran angklung setiap tanggal 16 November yang bernama “Angklung Pride” di Saung Angklung Udjo. Melalui acara Angklung Pride, kami memastikan agar angklung tetap terpelihara, terlindungi terpromosikan dan teregenerasi. Acara Angklung Pride akan mewakili dari segi promosi dan regenerasi. Kata "Pride", yang berarti kebanggaan, memiliki 2 (dua) arti, bangga sebagai bangsa Indonesia dan bangga sebagai orang Sunda yang memiliki warisan budaya angklung.