Logo Saung Angklung Udjo
Saung Angklung Udjo Nature, Culture in Harmony
Budaya

Menteri Jumhur Canangkan Gerakan Menanam Bambu Nusantara, Kang Opik Udjo: Jangan Cuma Tanam, Harus Cinta Dulu

A

Admin SAU

18 June 2026, 16:46 WIB

Bagikan:
Gallery 1
Gallery 2
Kang Opik Udjo: Bukan Ahli Bambu, Tapi Hidup Bersamanya
Program itu langsung dapat respons dari Direktur Utama Saung Angklung Udjo, Taufik Hidayat Udjo atau Kang Opik. Ia menegaskan, keberhasilan gerakan ini bukan diukur dari jumlah batang yang ditanam, tapi berapa banyak orang yang akhirnya jatuh cinta pada bambu.

“Keberhasilan Gerakan Menanam Bambu Nusantara bukan hanya berapa juta batang bambu yang ditanam, tetapi berapa juta orang yang akhirnya mencintai bambu,” kata Opik saat ditemui di Saung Angklung Udjo, Bandung.

Opik mengaku bukan ahli bambu. Tapi sejak kecil, ia sudah hidup berdampingan dengan bambu lewat seni angklung.

“Saya bukan ahli bambu, tetapi sejak kecil saya sudah hidup bersama bambu melalui angklung,” ujarnya.

Bambu Bukan Sekadar Tanaman, Tapi Identitas Hidup
Bagi Opik, bambu jauh lebih dari sekadar tanaman. Ia adalah sumber budaya, pendidikan, pariwisata, lapangan kerja, kegembiraan, dan jembatan emosional masyarakat dengan alam.

“Karena itu saya melihat bambu bukan hanya sebagai tanaman, tetapi sebagai sumber budaya, pendidikan, pariwisata, pekerjaan, kegembiraan, dan kecintaan masyarakat kepada alam,” katanya.

Bambu sudah menemani perjalanan manusia Nusantara sejak lama. Di Jawa Barat, bambu berkembang jadi identitas budaya yang melahirkan angklung, calung, karinding, dan suling.

“Bambu menemani perjalanan manusia sejak bermain, belajar, bekerja, hingga menjaga lingkungan,” ujarnya.

Saung Angklung Udjo: Pengunjung Tidak Cuma Melihat, Tapi Merasakan
Opik mencontohkan pengalaman di Saung Angklung Udjo selama puluhan tahun. Pengunjung tak sekadar nonton pertunjukan angklung. Mereka duduk di kursi bambu, berada di saung bambu, dikelilingi pagar bambu, sambil mendengarkan dan memainkan musik bambu.

“Di SAU orang tidak hanya melihat bambu. Mereka duduk di kursi bambu, berada di saung bambu, dikelilingi pagar bambu, sambil mendengarkan dan memainkan musik bambu. Mereka pulang membawa pengalaman dan kenangan tentang bambu,” kata Opik.

Karena itu, tantangan terbesar gerakan ini bukan menanam bambu, tapi membangun hubungan emosional masyarakat dengan tanaman tersebut.

“Para ahli dapat membantu Indonesia menanam bambu. Kami dari dunia budaya ingin membantu Indonesia mencintai bambu,” ujarnya.

Angklung Terancam Jika Bambu Hilang
Opik mengingatkan, keberlangsungan seni angklung sangat bergantung pada kelestarian ekosistem bambu. Angklung tidak lahir dari pabrik, melainkan dari alam yang terjaga.

“Hilangnya rumpun-rumpun bambu berarti ancaman bagi keberlangsungan warisan budaya yang telah diakui dunia,” katanya.

Sebagai Ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI), Opik juga menilai jutaan pengunjung yang datang ke Saung Angklung Udjo membuktikan bambu mampu jadi medium budaya yang diterima berbagai kalangan, termasuk wisatawan mancanegara.